Belajar tanpa guru.

*UNGKAPAN BELAJAR ILMU TANPA GURU MAKA GURUNYA ADALAH SYETAN ITU TIDAK SEMUANYA BENAR*

(Tidak ada perintah belajar pada Guru, cuma perintah bertanya pada yang tau) 

         _Belajar ilmu tanpa guru (otodidak) berisiko tinggi menyebabkan kesesatan, penyimpangan makna, dan kebingungan, terutama dalam ilmu syariat, karena tidak adanya panduan sanad ilmu yang jelas._

          _Akibat fatal lainnya meliputi pemahaman yang salah, potensi menyimpang dari jalan yang lurus, serta hilangnya keberkahan ilmu.

*Dampak Utama Belajar Ilmu Tanpa Guru:*

*_Risiko Sesat dan Penyimpangan:_*        

         _Tanpa bimbingan guru, seseorang berisiko terjebak pada kesesatan, terutama dalam memahami ilmu agama yang dalam.

*_"Gurunya adalah Setan"_*: 

          _Ungkapan ulama yang masyhur, *"Man lam yakun lahu sikhun fasyaikhu sitan"* (Barang siapa yang tidak memiliki guru, maka gurunya adalah setan), menunjukkan bahaya belajar tanpa bimbingan._

*_Pemahaman Dangkal dan Sombong:_*

            _Seseorang cenderung merasa paling benar dan sulit menerima pandangan lain, serta kehilangan sikap tawadhu._

*_Kesesatan dalam Pemikiran:_*

          _Belajar tanpa guru, khususnya dari internet, sering kali menyebabkan pemikiran yang ekstrem dan tidak utuh._

*_Salah Memahami Konteks:_*

          _Tanpa guru, seseorang rentan salah menafsirkan teks kitab suci atau literatur agama._

*_Bahaya dalam Ilmu Duniawi:_*

           _Untuk ilmu praktis seperti kedokteran atau penerbangan, belajar tanpa guru membahayakan keselamatan._

*Meskipun dalam hal tertentu (seperti pendalaman ilmu yang sudah dipelajari) belajar sendiri diperbolehkan, untuk tingkat dasar dan menengah, pendampingan guru sangat krusial dalam tradisi keilmuan Islam.

#####№#######################№#####

Tulisan tersebut mengandung nasihat yang baik, tetapi perlu diluruskan agar tidak disangka sebagai hadis Nabi ﷺ atau kaidah yang disepakati secara mutlak.

1. Kalimat "Belajar ilmu tanpa guru maka gurunya adalah setan"

Kalimat:

> "Man lam yakun lahu syaikhun fa syaikhuhu asy-syaithan" (Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan.)

Bukan hadis Nabi ﷺ.

Kalimat ini dikenal sebagai ungkapan (atsar atau hikmah) yang dinisbatkan kepada sebagian ulama atau kalangan sufi, namun para ahli hadis menyatakan bahwa ia tidak memiliki sanad yang sahih sebagai hadis Nabi.

Karena itu, tidak boleh mengatakan, "Rasulullah bersabda..." ketika mengutip kalimat tersebut.

2. Apakah maknanya benar?

Secara umum, maknanya dapat diterima, terutama dalam mempelajari ilmu syariat yang mendalam. Sejak masa sahabat, ilmu agama dipelajari melalui guru yang memiliki sanad keilmuan.

Allah berfirman:

> "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."

(QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menunjukkan pentingnya bertanya kepada ahli ilmu.

3. Apakah belajar otodidak selalu sesat?

Tidak. Pernyataan itu terlalu mutlak.

Belajar sendiri melalui Al-Qur'an, hadis, kitab para ulama, atau media yang terpercaya dapat menjadi sarana memperoleh ilmu, terutama jika seseorang:

mengetahui batas kemampuannya,

merujuk kepada ulama ketika menemui persoalan sulit,

tidak tergesa-gesa berfatwa,

dan bersedia menerima koreksi.

Banyak ulama besar juga memperbanyak ilmu dengan membaca kitab secara mandiri, tetapi mereka tetap memiliki guru dan sanad keilmuan.


4. Kesimpulan


✅ Belajar kepada guru adalah jalan terbaik dalam menuntut ilmu syariat.


✅ Bertanya kepada ulama ketika tidak memahami suatu masalah adalah perintah Al-Qur'an.


❌ Kalimat "Barang siapa yang tidak mempunyai guru maka gurunya adalah setan" bukan hadis Nabi ﷺ.


❌ Tidak tepat menyatakan bahwa setiap orang yang belajar tanpa guru pasti sesat, karena hal itu bergantung pada jenis ilmu, kemampuan orang tersebut, sumber belajarnya, dan kesediaannya merujuk kepada ahli ilmu.

Jadi, pesan tersebut baik sebagai nasihat agar tidak merasa cukup dengan belajar sendiri, tetapi hendaknya tidak dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ, dan penyampaiannya sebaiknya tidak dibuat terlalu mutlak.


Ungkapkan Lainnya

*BELAJAR MA'RIFAT DENGAN*

*GURU MURSYID*

------------------------------

          _Belajar makrifat dengan guru mursyid adalah proses bimbingan spiritual (tazkiyatun nafs) dalam tradisi tarekat untuk mengenal Allah secara dekat, yang memerlukan sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah._


_Mursyid berperan sebagai pembimbing rohani yang memberikan arahan, pendidikan batin, dan menguji keikhlasan murid melalui metode suluk._

 

*Peran dan Pentingnya Guru Mursyid:*

------------------------------------------


*Perantara (Wasilah):*

------------------------------------


             _Mursyid berkedudukan sebagai pembimbing spiritual, bahkan sering disebut sebagai wasilah antara murid dan Tuhan._


*Pembersihan Jiwa:*

----------------------------------


           _Fokus utamanya adalah membimbing murid dalam tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan mencapai makrifatullah (mengenal Allah)._


*Sanad Muttaṣil:*

----------------------------


          _Mursyid sejati harus memiliki sanad (rantai keilmuan) yang menyambung hingga Rasulullah SAW._


*Bimbingan Rohani:*

----------------------------------


           _Mursyid mengayomi dan mengarahkan permasalahan rohani murid, bukan sekadar transfer ilmu intelektual seperti guru biasa._


*Proses dan Adab Belajar:*

---------------------------------


          *Baiat (Sumpah Setia):*


           _Seringkali diawali dengan baiat, sebuah sumpah setia dan komitmen untuk taat kepada mursyid dalam menempuh jalan spiritual._


*Rabithah (Kedekatan Batin):*


           _Hubungan antara murid dan mursyid adalah rabithah, yakni kedekatan batin untuk mempermudah transmisi spiritual._


*Ujian dan Kedisiplinan:*


          _Mursyid menguji murid dengan berbagai cara untuk melihat fokus, keikhlasan, dan kekuatan iman._


*Dzikir*: 

---------------


            _Mursyid memberikan amalan dzikir tertentu yang sesuai dengan keadaan batin murid._



*Perbedaan Mursyid dan Ustadz/Guru Biasa:*


*_Mursyid:_*

--------------------

           _Membimbing batin, berfokus pada peningkatan maqam (tingkatan spiritual), dan memiliki ijazah untuk membimbing._


*Ustadz:*

----------------

           _Fokus pada pengajaran ilmu agama (teoritis), hukum, dan transfer pengetahuan umum._


*Belajar makrifat dianggap sulit tanpa bimbingan mursyid karena potensi tersesat dalam memahami pengalaman batin yang subjektif.*

########################

Secara umum, tulisan tersebut mencerminkan pandangan yang dianut dalam banyak tarekat tasawuf, tetapi bukan merupakan ajaran yang disepakati oleh seluruh ulama Islam. Ada beberapa bagian yang perlu diberi penjelasan.


Yang sesuai dengan ajaran Islam


Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) merupakan ajaran Al-Qur'an. Allah berfirman:


> "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."


(QS. Asy-Syams: 9)

Belajar kepada guru yang berilmu dan berakhlak memang dianjurkan.


Berdzikir kepada Allah adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

Yang merupakan pendapat tarekat, bukan akidah yang wajib diyakini

Beberapa pernyataan berikut adalah pandangan sebagian tarekat, bukan ijmak (kesepakatan) ulama:

"Mursyid adalah wasilah antara murid dan Tuhan."

"Belajar makrifat harus melalui guru mursyid."

"Rabithah sebagai transmisi spiritual."

"Baiat kepada mursyid sebagai syarat menempuh jalan makrifat."


Bagi pengikut tarekat tertentu, hal-hal tersebut merupakan metode tarbiyah (pendidikan ruhani). Namun, banyak ulama lain yang tidak menganggapnya sebagai syarat wajib untuk mencapai kedekatan kepada Allah.


Tentang sanad

Sanad dalam periwayatan ilmu memang sangat dihargai dalam Islam. Namun, sanad tarekat berbeda dengan sanad hadis. Sanad tarekat menunjukkan jalur pembinaan ruhani, sedangkan sanad hadis digunakan untuk menilai keaslian riwayat Nabi ﷺ.

Apakah makrifat harus melalui mursyid?

Tidak ada ayat Al-Qur'an atau hadis sahih yang secara tegas menyatakan:

> "Seseorang tidak akan dapat mengenal Allah kecuali melalui guru mursyid."

Yang ada adalah anjuran untuk:

belajar kepada ahli ilmu,

bertakwa,

memperbanyak ibadah,

berdzikir,

dan mengikuti Al-Qur'an serta Sunnah.


Sebagian ulama tasawuf menambahkan bahwa guru mursyid sangat membantu perjalanan ruhani. Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa seorang muslim dapat mencapai kedekatan kepada Allah melalui Al-Qur'an, Sunnah, dan bimbingan ulama yang terpercaya tanpa harus berbaiat kepada tarekat tertentu.


Kesimpulan


Tulisan tersebut bukan hadis Nabi ﷺ, melainkan penjelasan yang berasal dari tradisi tasawuf dan tarekat. Bagi pengikut tarekat mu'tabarah, isinya merupakan metode pembinaan ruhani yang diyakini bermanfaat. Namun, tidak tepat menyatakan bahwa seluruh umat Islam wajib menerima semua poin tersebut sebagai ajaran yang pasti, karena dalam masalah ini terdapat perbedaan pandangan di kalangan Ahlus Sunnah.


Yang disepakati seluruh kaum muslimin adalah bahwa jalan menuju Allah harus berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan pemahaman yang benar terhadap keduanya, dengan bimbingan orang-orang yang berilmu dan bertakwa.

📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏   


Bismillaah. . .   

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 


*أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


 وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

_"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Alloh rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."_

(QS. Hud 11: Ayat 6)


Shodaqolloh hul'adzim, 

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Binatang-binatang yang melata, yang hidup di bumi yang meliputi binatang yang merayap, merangkak, atau pun yang berjalan dengan kedua kakinya, semuanya dijamin rezekinya oleh Alloh. Binatang-binatang itu diberi naluri dan kemampuan untuk mencari rezekinya sesuai dengan fitrah kejadiannya, semuanya diatur Alloh dengan hikmat dan kebijaksanaan-Nya sehingga selalu ada keserasian. Jika tidak diatur demikian, mungkin pada suatu saat ada binatang yang berkembang-biak terlalu cepat, sehingga mengancam kelangsungan hidup binatang-binatang yang lain, atau ada yang mati terlalu banyak, sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Jika ada sebagian binatang memangsa binatang lainnya, hal itu adalah dalam rangka keseimbangan alam, sehingga kehidupan yang harmonis selalu dapat dipertahankan.


*Alloh mengetahui tempat berdiam binatang-binatang itu dan tempat persembunyiannya, bahkan ketika masih berada dalam perut induknya. Pada kedua tempat itu, Alloh senantiasa menjamin rezekinya dan semua itu telah tercatat dan diatur serapi-rapinya di Lauh Mahfuzh, yang berisi semua perencanaan dan pelaksanaan dari seluruh ciptaan Alloh secara menyeluruh dan sempurna.*  ✳️


🤲 🤲 🤲

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَ مَشَقَّةٍ وَلاَ ضَيْرٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

*_"Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu untuk berkenan memberiku rezeki yang luas serta baik, tanpa payah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu."_*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin


Wassalam,


☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *sholat tahajud*. . . 

Wargi-wargi *sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

#######################.

Tulisan tersebut secara umum benar dan baik sebagai nasihat, namun ada beberapa catatan agar lebih tepat dari sisi dalil.


1. Ayat Al-Qur'an: Benar ✅


Firman Allah:


> وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا...


"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan Allah menjamin rezekinya..."


(QS. Hud [11]: 6)




Ayat ini memang menjelaskan bahwa Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.


2. Penjelasan tafsir: Sesuai ✅


Uraian mengenai:


Allah memberi naluri kepada setiap makhluk.

Tulisan tersebut secara umum benar dan baik sebagai nasihat, namun ada beberapa catatan agar lebih tepat dari sisi dalil.


1. Ayat Al-Qur'an: Benar ✅


Firman Allah:


> وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا...


"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan Allah menjamin rezekinya..."


(QS. Hud [11]: 6)




Ayat ini memang menjelaskan bahwa Allah telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.


2. Penjelasan tafsir: Sesuai ✅


Uraian mengenai:


Allah memberi naluri kepada setiap makhluk untuk mencari rezeki,


adanya keseimbangan ekosistem,


Allah mengetahui tempat tinggal dan tempat penyimpanan setiap makhluk,


semuanya telah tercatat di Lauh Mahfuz,



sejalan dengan penjelasan para ahli tafsir, meskipun redaksinya merupakan uraian penulis, bukan teks ayat.


3. Doa rezeki: Perlu kehati-hatian ⚠️


Doa:


> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا طَيِّبًا...




berisi permohonan yang baik. Namun, redaksi lengkap yang ditulis:


> "...tanpa payah, tanpa kesulitan..."




tidak saya ketahui berasal dari hadis sahih Nabi ﷺ. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dinisbatkan sebagai doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kecuali ada sumber yang jelas.


Sebagai gantinya, doa yang sahih di antaranya:


> اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ


"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."


(HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan oleh sebagian ulama)




4. "Sekarang saatnya yang paling baik untuk shalat tahajud"


Kalimat ini benar jika memang saat itu sudah masuk waktu tahajud, yaitu setelah tidur pada malam hari. Namun yang lebih utama adalah sepertiga malam terakhir, berdasarkan hadis-hadis sahih.


Kesimpulan


✅ Ayat Al-Qur'annya benar.


✅ Penjelasan tafsirnya sesuai secara umum.


⚠️ Doa di bagian akhir baik maknanya, tetapi tidak boleh dipastikan sebagai doa yang berasal dari Nabi ﷺ tanpa sumber yang sahih.


✅ Ajakan untuk shalat tahajud adalah ajakan yang baik, selama memang telah masuk waktunya.



Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang bertawakal kepada-Nya, berikhtiar mencari rezeki yang halal, dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Aamiin.





Maaf yah kalau saya tidak boleh menyalahkan ajaran orang lain.

Di ajarkan nya ikutilah ulama se zaman kalau kita merasa hebat,merasa pintar dari orang lain kirimkan tausiyah pada grup ini nanti saya share ke grup-grup yang lain ini guru yang hebat terimakasih


Jawabnya

Terima kasih atas masukannya. Saya tidak bermaksud menyalahkan ajaran siapa pun atau merendahkan ulama. Yang saya sampaikan hanyalah upaya untuk memeriksa apakah suatu hadis, doa, atau perkataan memang memiliki dasar yang sahih atau merupakan pendapat ulama.


Saya juga sepakat bahwa kita perlu menghormati ulama, terutama ulama yang amanah dan berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, dalam Islam kita juga diajarkan untuk meneliti dalil, sebagaimana firman Allah:


"Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)


Kalau ada kekeliruan dalam penyampaian saya, saya terbuka untuk dikoreksi dengan dalil. Semoga Allah membimbing kita semua kepada kebenaran, menjaga adab dalam berdiskusi, dan mempersatukan hati kaum muslimin. Aamiin.


Kalau udah hapal beribu2 hadis nanti saya suruh panggil suruh tausiah di cibitung.

Jawabnya.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, 


Rasulullah ﷺ bersabda:


> نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ




Artinya:


> "Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu hadis dari kami, lalu menghafalnya, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Sebab, boleh jadi orang yang membawa ilmu menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya. Dan boleh jadi pembawa ilmu itu sendiri belum menjadi orang yang paling memahami ilmu tersebut."




Hadis ini diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud, Jami' at-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah. Al-Albani menilai hadis ini sahih.


Hadis ini menunjukkan empat tahapan yang mulia:


1. Mendengar ilmu dari sumber yang benar.



2. Menghafal atau menjaganya dengan baik.



3. Memahami dan mengamalkannya, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan.



4. Menyampaikannya kepada orang lain dengan amanah, tanpa menambah atau mengurangi isi ajaran Nabi ﷺ.




Ini menjadi salah satu dalil utama tentang pentingnya menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan hadis Nabi dengan benar.


Berarti guru saya tidak amanah menyampaikan nya

Jawabnya.

Itu belum bisa disimpulkan.


Kalau seorang guru menyampaikan sebuah hadis atau penjelasan yang ternyata kurang tepat, tidak otomatis berarti beliau tidak amanah. Ada beberapa kemungkinan:


Beliau keliru dalam mengingat atau menukil riwayat.


Beliau mengikuti pendapat ulama yang berbeda dalam memahami suatu masalah.


Bisa juga informasi yang sampai kepada kita tidak lengkap atau keluar dari konteks.



Dalam Islam, Allah berfirman:


> "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyun)..." (QS. Al-Hujurat: 6)


*************************

📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏   

Bismillaah,

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

*أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*

اَفَمَنْ كَا نَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ وَيَتْلُوْهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِنْ قَبْلِهٖ كِتٰبُ مُوْسٰۤى اِمَا مًا وَّرَحْمَةً ۗ اُولٰٓئِكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ مِنَ الْاَ حْزَا بِ فَا لنَّا رُ مَوْعِدُهٗ ۚ فَلَا تَكُ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ اِنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يُؤْمِنُوْنَ

_"Maka apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang yang sudah mempunyai bukti yang nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti oleh saksi dari-Nya dan sebelumnya sudah ada pula Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an). Barang siapa mengingkarinya (Al-Qur'an) di antara kelompok-kelompok (orang Quraisy), maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah engkau ragu terhadap Al-Qur'an. Sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman."_

(QS. Hud 11: Ayat 17)

Shodaqolloh hul'adzim, 

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

Alloh menjelaskan bahwa nasib orang-orang kafir yang tersesat itu tidak sama dengan orang-orang yang berada di bawah cahaya yang terang-benderang yang datang dari Alloh dan dibimbing pula oleh petunjuk-petunjuk-Nya yang membuktikan kebenaran agamanya yaitu Al-Qur'an. Kebenaran itu juga didukung oleh bukti-bukti yang lain yang datang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa sebagai landasan iman yang menjadi rahmat bagi orang yang mempercayainya di kalangan Bani Israil. Orang-orang yang mempunyai sifat yang demikian utamanya itu tentu tidak sama dengan orang-orang yang hanya mengejar kehidupan dunia yang fana, dan tidak sama pula dengan orang yang mengutamakan kehidupan kerohanian saja untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

Barang siapa memperhatikan beberapa segi keutamaan yang tersebut dalam ayat ini, mereka itulah orang-orang yang beriman, yang menghimpun antara dalil-dalil yang nyata dan dalil-dalil yang diambil dari kitab lain. Mereka meyakini bahwa Al-Qur'an itu bukan buatan Muhammad akan tetapi semata-mata wahyu dan firman Alloh.

Karena itu jangan sampai ada yang meragukan kebenaran Al-Qur'an itu. Al-Qur'an tidak mengandung kebatilan, baik ayat-ayatnya yang pertama turun, hingga yang terakhir. Dia adalah firman Alloh Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji. Tetapi amat disayangkan bahwa kebanyakan manusia tidak beriman kepadanya. Adapun orang-orang musyrik tidak mau beriman disebabkan oleh kesombongan para pemuka-pemukanya dan karena taklid buta dari pengikut-pengikutnya terhadap ajaran nenek moyang mereka yang sesat. 

*Demikian pula ahli kitab, karena suka mengubah agama nabi-nabinya dan mengadakan berbagai macam bidah dalam agama.*  

🤲 🤲 🤲

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ

*_"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."_*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin.     

Wassalam,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *sholat tahajud*. . . 

Wargi-wargi *sholat yuuu*. . .

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.


Secara umum, isi tausiah tersebut sejalan dengan kandungan QS. Hud ayat 17, namun ada satu bagian yang perlu diberi catatan agar penyampaiannya lebih hati-hati.

Yang sesuai dengan ayat dan tafsir:

QS. Hud:17 menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang benar dari Allah.

Orang yang memiliki bukti dari Allah dan beriman kepada Al-Qur'an berada di atas petunjuk.

Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa juga disebut sebagai petunjuk dan rahmat sebelum Al-Qur'an.

Allah mengingatkan agar tidak ragu terhadap kebenaran Al-Qur'an, meskipun kebanyakan manusia tidak beriman.

Bagian yang perlu kehati-hatian: Kalimat:

> "Demikian pula ahli kitab, karena suka mengubah agama nabi-nabinya dan mengadakan berbagai macam bidah dalam agama."

Kalimat ini merupakan penjelasan tafsir, bukan bunyi ayat secara langsung. Al-Qur'an memang menyebut bahwa sebagian Ahli Kitab melakukan penyimpangan, menyembunyikan atau mengubah isi kitab (misalnya QS. Al-Baqarah: 75, 79; QS. Ali 'Imran: 78). Namun Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa tidak semua Ahli Kitab sama, sebagaimana firman Allah:

> "Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab ada golongan yang lurus..." (QS. Ali 'Imran: 113)

Karena itu, jika menyampaikan tausiah kepada masyarakat umum, akan lebih tepat menggunakan ungkapan seperti:

> "Sebagian Ahli Kitab menyimpang dari ajaran nabi-nabi mereka dengan mengubah atau menyembunyikan ajaran yang benar, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an."

Dengan redaksi tersebut, penyampaiannya lebih sesuai dengan keseluruhan keterangan Al-Qur'an dan menghindari kesan menggeneralisasi seluruh Ahli Kitab.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan diberikan hati yang istiqamah.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran: 8).

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

.📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏   


Bismillaah. . .

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 


*أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاَ خْبَـتُوْۤا اِلٰى رَبِّهِمْ ۙ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

_"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dan merendahkan diri kepada Tuhan, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya."_

(QS. Hud 11: Ayat 23)


Shodaqolloh hul'adzim, 

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Begitulah keadaan nasib orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka selalu berserah diri kepada Alloh dengan patuh dan ta'at kepada-Nya dan kepada rosul-Nya, mengerjakan berbagai kebajikan di dunia, melaksanakan keta'atan pada Alloh dengan tulus ikhlas dan meninggalkan segala yang mungkar. 

*Mereka itu adalah penghuni-penghuni surga yang tidak akan keluar lagi darinya, dan mereka tidak akan mati, bahkan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.*  


🤲 🤲 🤲

رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّ اَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّا جْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا

*_"Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)."_*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin.     

Wassalam,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *sholat tahajud*. . . 

Wargi-wargi *sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏   


Bismillaah. . .

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 


*أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*

*بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ*


تَبَّتْ يَدَاۤ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ 

_"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!"_

مَاۤ اَغْنٰى عَنْهُ مَا لُهٗ وَمَا كَسَبَ 

_"Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan."_

سَيَصْلٰى نَا رًا ذَا تَ لَهَبٍ 

_"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka)."_

وَّا مْرَاَ تُهٗ ۗ حَمَّا لَةَ الْحَطَبِ 

_"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah)."_

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

_"Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal."_

(QS. Al-Lahab 111: 1-5)


Shodaqolloh hul'adzim.

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Dalam ayat ini Alloh menerangkan bahwa Abu Lahab akan rugi dan binasa dan kata-kata ini sebagai kutukan dari Alloh baginya. Binasa pada kedua belah tangannya karena tangan adalah alat bekerja dan bertindak. Bila kedua belah tangan seseorang telah binasa, berarti ia telah binasa. Dikatakan Abu Lahab, padahal namanya Abdul-'Uzza, karena ia berwajah tampan menawan. Namun para ulama berpendapat bahwa dikatakan Abu Lahab karena ia pasti menjadi penghuni neraka yang bergejolak apinya. 

Selanjutnya Alloh menjelaskan bahwa apa yang menjadi kebanggaan Abu Lahab dalam hidup, yaitu harta dan kedudukan, ternyata sama sekali tidak dapat menyelamatkannya dari azab Alloh pada hari Kiamat. Begitu pula usahanya untuk memusuhi dan mengalahkan Nabi Muhammad tidak berhasil sama sekali. Abu Lahab sangat membenci Nabi saw dan paling gigih mengajak orang untuk menentangnya dan paling kasar menghadapinya. Raba'ah bin 'Ubbad berkata: Saya melihat Nabi Muhammad saw pada masa Jahiliah di pasar dzu al-Majaz bersabda, *"Ucapkanlah tiada Tuhan melainkan Alloh niscaya kamu akan berbahagia!"* 

Orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Di belakang beliau seorang laki-laki, putih warna mukanya, juling matanya, mempunyai dua untaian rambut di kepalanya, berkata, *"Dia (Muhammad) beragama sabi' dan pembohong."* 

Ia mengikuti Nabi ke mana saja beliau pergi, lalu saya bertanya, *"Siapakah orang itu?"* Mereka menjawab, *"Itu adalah pamannya sendiri Abu Lahab."* (Riwayat Ahmad) 

Dengan ini dijelaskan bahwa Abu Lahab selalu menentang kebenaran dan menjauhkan orang dari mengikuti kebenaran. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang pendusta. Ia juga menentang beliau dan merendahkan nilai agama serta petunjuk yang beliau bawa.

Berikutnya Alloh menegaskan bahwa Abu Lahab akan masuk neraka yang bergejolak dan merasakan panasnya azab neraka. Maksud pernyataan ini adalah bahwa sesungguhnya Abu Lahab akan mengalami kerugian, usahanya tidak akan berhasil dalam menentang agama Alloh. Tidak ada gunanya harta, usaha, dan daya upaya untuk itu, karena Alloh yang meninggikan kalimah Rosul-Nya, dan menyebarluaskan dakwahnya. Abu Lahab akan diazab pada hari Kiamat dengan neraka yang menyemburkan bunga api dan suhunya yang sangat panas, Azab itu disediakan Alloh untuk orang-orang seperti Abu Lahab dari kalangan orang-orang kafir yang menentang Nabi, selain azab di dunia dengan kegagalan usahanya. Istrinya sebagai pembantu utama dalam usaha menentang dan menyakiti Rosululloh saw akan diazab juga bersama-sama. Selain daripada itu, istrinya juga menyebar fitnah ke mana-mana, menyebar berita-berita bohong, dan menghidupkan api permusuhan.

Alloh menegaskan bahwa istri Abu Lahab akan diazab sebagaimana suaminya. Istrinya bernama Arwa binti Harb, saudara perempuan Abu Sufyan bin Harb. Dia diazab karena usahanya menyebarkan fitnah dan memadamkan dakwah Nabi Muhammad. Orang Arab mengatakan bahwa orang yang berusaha menyebarkan dan merusak hubungan antara manusia seolah-olah ia membawa kayu api antara manusia, seakan-akan dia membakar silaturrahim antara mereka. Ada pula yang mengatakan bahwa istri Abu Lahab menaruh duri, pecahan kaca, dan kotoran di jalan yang biasa dilalui Nabi Muhammad dengan maksud untuk menyakiti beliau.

Dalam ayat ini, Alloh menyatakan keburukan perbuatan istri Abu Lahab, kerendahan budi dan kejelekan amal perbuatannya. Pada lehernya selalu ada seutas tali yang kuat, digunakannya untuk memikul duri-duri yang akan diletakkannya pada jalan yang dilalui Nabi. Pernyataan ini merupakan penghinaan bagi dirinya dan suaminya. Usaha istri Abu Lahab begitu keras untuk menyalakan permusuhan antara manusia, sehingga Alloh mengisahkan dia sebagai seorang perempuan yang membawa kayu bakar yang digantungkan pada lehernya ke mana saja ia pergi. 

Ini adalah seburuk-buruknya perumpamaan bagi seorang perempuan. Telah diriwayatkan dari Sa'id bin Musayyab bahwa Ummu Jamil (panggilan istri Abu Lahab) mempunyai sebuah kalung yang sangat mahal, dan ia berkata;

*"Sesungguhnya aku akan mempergunakan harga kalung ini untuk memusuhi Muhammad."* 

*_Lalu Alloh mengganti kalung tersebut dengan kalung dari api neraka._* ✳️

(Dikutip dari tafsir Kemenag R.I.)


🤲 🤲 🤲

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَاماً. إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرّاً وَمُقَاماً.

*_Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman._*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin

Wassalam,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *Sholat Tahajud*. . .

Wargi-wargi *Sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Materi yang Anda bagikan mengandung pelajaran yang sangat penting dari Al-Qur'an, yaitu bahwa kekayaan, kedudukan, dan hubungan keluarga tidak akan bermanfaat jika seseorang memilih menentang Allah dan Rasul-Nya.

Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari surah ini adalah:

1. Harta bukan jaminan keselamatan. Abu Lahab adalah orang terpandang dan berharta, tetapi semua itu tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah karena kekufuran dan permusuhannya terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

2. Permusuhan terhadap kebenaran membawa kerugian. Abu Lahab tidak hanya menolak dakwah, tetapi juga berusaha menghalangi orang lain untuk menerima Islam.

3. Fitnah dan adu domba adalah dosa besar. Istri Abu Lahab digambarkan sebagai ḥammālatal-ḥaṭab (pembawa kayu bakar), yang oleh banyak ulama ditafsirkan sebagai orang yang menyebarkan fitnah dan menyalakan permusuhan di tengah masyarakat.

4. Setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Kedekatan nasab dengan Nabi tidak memberi keistimewaan jika tidak disertai iman dan amal saleh.

Terkait kisah Ummu Jamil dan kalungnya, kisah tersebut memang disebutkan dalam sebagian kitab tafsir sebagai riwayat dari para ulama salaf. Namun, rincian itu bukan bagian dari ayat Al-Qur'an, sehingga dipahami sebagai penjelasan tafsir, bukan sebagai nash Al-Qur'an.

Ajakan untuk melaksanakan salat tahajud juga sangat baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam." (HR. Muslim)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga lisan dari fitnah, menggunakan harta di jalan yang diridhai-Nya, istiqamah dalam mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, dan diberi kemudahan untuk menghidupkan malam dengan salat tahajud.

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۝ إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا


Ya Allah, jauhkanlah kami dari azab Jahannam. Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat menetap.

#########################

📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏    


Bismillaah. . .   

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


*أَعُوْalذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗۤ اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا ۗ وَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

_"Dan ketika dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."_

(QS. Yusuf 12: Ayat 22)

Shodaqolloh hul'adzim.

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

Di kala Yusuf mulai dewasa, Alloh memberikan pula kepadanya kecerdasan dan kebijaksanaan sehingga ia mampu memberikan pendapat dan pikirannya dalam berbagai macam masalah yang dihadapi. Alloh juga memberikan kepadanya ilmu, meskipun ia tidak belajar. Ilmu yang didapat tanpa belajar ini dinamai ilmu ladunni karena ia semata-mata ilham dan karunia dari Alloh.

*Demikianlah Alloh memberi balasan kepada Yusuf yang tidak pernah mengotori dirinya dengan perbuatan keji dan jahat, selalu menjaga kebersihan hati nuraninya, selalu bersifat sabar dan tawakal atas musibah dan bahaya yang menimpanya. Demikianlah Alloh membalas setiap insan yang berbuat baik.*  

🤲 🤲 🤲

رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  ۗ  اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

*_"Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rosul-rosul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamnat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji."_*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin

Wassalam,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *Sholat Tahajud*. . .

Wargi-wargi *Sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

QS. Yusuf ayat 22. Berikut ringkasannya:

  1. Kematangan disertai anugerah Allah. Ketika Nabi Yusuf telah mencapai kedewasaan, Allah menganugerahkan kepadanya hikmah (kebijaksanaan dalam mengambil keputusan) dan ilmu.

  2. Balasan bagi orang yang berbuat ihsan. Penutup ayat, "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik," menunjukkan bahwa Allah memuliakan hamba yang menjaga iman, kesabaran, kejujuran, dan ketakwaannya.

  3. Tentang ilmu laduni. Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa para nabi menerima wahyu dan ilham dari Allah. Istilah ilmu laduni diambil dari kisah Nabi Khidir dalam QS. Al-Kahfi ayat 65, yaitu ilmu yang Allah berikan sebagai karunia. Namun, bagi kaum muslimin secara umum, syariat tetap memerintahkan untuk menuntut ilmu dengan belajar, sebagaimana banyak ayat Al-Qur'an dan hadis yang menganjurkannya.

  4. Hikmah bagi kita. Menjaga diri dari maksiat, bersabar menghadapi ujian, bertawakal, dan berbuat ihsan merupakan sebab datangnya pertolongan dan keberkahan dari Allah, meskipun bentuk karunia-Nya berbeda-beda pada setiap hamba.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.

Beberapa pelajaran dari QS. Yusuf ayat 40:

1. Tauhid adalah inti dakwah para nabi. Nabi Yusuf mengajak manusia meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah.

2. Jangan mengikuti keyakinan tanpa dalil. Ayat ini mengingatkan bahwa nama-nama sesembahan yang dibuat manusia tidak memiliki dasar dari Allah.

3. Hak menetapkan hukum adalah milik Allah. "Inil hukmu illā lillāh" berarti Allah memiliki kekuasaan dan keputusan tertinggi. Manusia berkewajiban menaati petunjuk-Nya.

4. Agama yang lurus adalah beribadah hanya kepada Allah. Tauhid menjadi landasan seluruh amal. Ibadah seperti doa, sujud, tawakal, dan memohon pertolongan ditujukan hanya kepada-Nya.

5. Kebenaran tidak selalu diikuti oleh kebanyakan manusia. Penutup ayat mengingatkan bahwa jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran.

Doa yang dicantumkan:

> "Rabbanā 'alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal mashīr."

"Ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami bertawakal, hanya kepada-Mu kami bertaubat, dan hanya kepada-Mu kami kembali."

Doa ini mengajarkan sikap tawakal, kembali kepada Allah dengan taubat, dan menyadari bahwa seluruh manusia akan kembali kepada-Nya.

Ajakan menutup tausiah dengan shalat tahajud juga sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra' ayat 79 bahwa shalat malam merupakan salah satu amalan yang diharapkan mengantarkan seorang hamba kepada maqāman maḥmūdā (tempat yang terpuji).

Semoga Allah meneguhkan kita di atas tauhid, menerima amal ibadah kita, dan memberikan kekuatan untuk istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

#########################

*Menundukkan Kehendak Diri kepada Yang Maha Berkehendak*


Manusia sering merasa bahwa persoalan terbesar dalam hidup adalah bagaimana mendapatkan apa yang ia kehendaki. Ia berdoa agar keinginannya dikabulkan, berusaha agar tujuannya tercapai, bahkan kadang membawa nama Tuhan untuk menguatkan kehendaknya sendiri.

Namun dalam jalan tasawuf, ada pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah kita sedang meminta Allah mengikuti kehendak kita, atau sedang belajar menundukkan kehendak kita kepada Allah Yang Maha Berkehendak?

Di sinilah makna sabar menemukan kedalamannya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar bukan sekadar menunggu. Sabar adalah proses pendidikan jiwa agar manusia tidak lagi diperintah oleh nafsunya.

Ketika marah datang, nafsu berkata: balas.

Sabar berkata: tahan.

Ketika kesombongan datang, nafsu berkata: aku lebih tinggi.

Sabar berkata: tunduk (taqua/taqwa).

Ketika iri dan dengki muncul, nafsu berkata: jatuhkan dia.

Sabar berkata: bersihkan hatimu.

Ketika keinginan tidak terpenuhi, nafsu berkata: Allah tidak adil.

Sabar berkata: mungkin kehendakku sedang diuji agar aku belajar menerima kehendak-Nya.

Maka sabar adalah jembatan dari manusia yang dikuasai nafsu menuju manusia yang menguasai nafsunya.

Tetapi menguasai nafsu pun belum menjadi tujuan terakhir. Sebab manusia dapat saja berhasil mengendalikan dirinya, tetapi masih mempertahankan ego yang halus: aku yang berhasil, aku yang kuat, aku yang mampu.

Di sinilah sabar bertemu dengan ikhlas.

Ikhlas bukan hanya tidak mengeluh terhadap ketentuan Allah. Ikhlas adalah ketika kehendak pribadi perlahan kehilangan kedudukannya di hadapan kehendak Allah.

Menundukkan kehendak manusia kepada kehendak Yang Maha Berkehendak.

Itulah perjalanan dari insan menuju hamba.

Karena itu, Islam secara total sebagaimana pesan QS. Al-Baqarah ayat 208 bukan sekadar identitas, melainkan penyerahan diri secara menyeluruh. Seseorang tidak cukup hanya mengatakan beriman kepada Allah, tetapi harus belajar menghadirkan iman itu ke dalam sikap, perbuatan, akhlak, dan ketaatan.

Di sinilah muncul dialektika yang sangat penting:

Iman mengakui Allah.

Islam menundukkan diri kepada Allah.

Sabar melatih jiwa untuk menerima ketundukan itu.

Ikhlas membersihkan ketundukan dari kepentingan ego.

Dan akhirnya manusia menemukan dirinya sebagai hamba.

Karena itu, persoalan terbesar bukanlah apakah seseorang sering menyebut nama Allah.

Seseorang bisa fasih mengucapkan Allahu Akbar, tetapi apakah ia telah membesarkan Allah di atas amarahnya?

Ia bisa berbicara tentang tauhid, tetapi apakah ia telah menundukkan kesombongannya?

Ia bisa berbicara tentang iman, tetapi apakah ia bersedia meninggalkan sesuatu ketika Allah memerintahkannya untuk meninggalkan?

Sebab iblis pun mengenal Allah. Persoalannya bukan ketidaktahuan terhadap Allah, tetapi kesombongan yang menolak perintah-Nya.

Maka bahayanya bukan hanya manusia yang tidak mengenal Tuhan, tetapi manusia yang membawa nama Tuhan sementara kehendak dirinya masih menjadi pusat segala sesuatu.

Di situlah godaan setan menjadi sangat halus.

Setan tidak selalu datang dengan ajakan yang jelas untuk meninggalkan Allah. Kadang ia datang melalui ego, kesombongan, amarah, iri, dengki, merasa paling benar, merasa paling suci, bahkan melalui keinginan untuk membenarkan diri dengan menggunakan nama Allah.

Maka pertanyaan “iblis itu bangkit atau tidak?” sebenarnya dapat dikembalikan kepada diri sendiri:

Apakah iblis hanya berada di luar diri kita, atau sifat-sifatnya masih dapat bangkit di dalam diri ketika nafsu, kesombongan, amarah, iri dan keinginan untuk menang menguasai hati?

Kalau sifat itu bangkit, maka perjuangan manusia belum selesai.

Sebab tasawuf bukan sekadar mencari pengalaman batin yang tinggi. Tasawuf adalah perjalanan membersihkan manusia dari segala sesuatu yang menghalangi dirinya untuk tunduk kepada Allah.

Pada akhirnya, sabar bukan hanya menahan diri dari penderitaan. Sabar adalah menahan ego agar kehendak diri tidak mengalahkan kehendak Tuhan.

Dan ketika manusia telah sampai pada titik itu, ia tidak lagi bertanya:

“Bagaimana Allah memenuhi kehendakku?”

Tetapi ia mulai bertanya:

“Bagaimana kehendakku dapat tunduk kepada kehendak Allah?”

Di situlah manusia mulai keluar dari dirinya sendiri.

Dari aku menuju Dia.

Dari nafsu menuju ikhlas.

Dari sekadar mengaku beriman menuju penyerahan diri.

Dan dari manusia yang ingin mengatur segalanya, menuju hamba yang sadar bahwa hanya Allah Yang Maha Berkehendak.

_Sumber: percakapan Group wa Forum silaturahmi Luak 50 Kota.

______________________________

Tulisan ini memiliki alur yang kuat dan bernuansa reflektif. Gagasan utamanya konsisten: perjalanan seorang mukmin adalah proses menundukkan kehendak diri kepada kehendak Allah. Penyusunan dari sabar → ikhlas → penyerahan diri juga mengalir dengan baik.

Ada beberapa catatan agar lebih presisi secara akidah dan mudah dipahami:

1. Frasa "Iman mengakui Allah" dapat diperdalam. Dalam ajaran Islam, iman bukan hanya pengakuan, tetapi juga keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pembuktian dengan amal. Misalnya:


> Iman adalah keyakinan kepada Allah yang bersemayam di hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.





2. Bagian tentang iblis sudah baik, namun perlu kehati-hatian agar tidak terkesan menyamakan nafsu dengan iblis. Lebih tepat jika dijelaskan bahwa:


> Iblis menggoda dari luar, sedangkan hawa nafsu dari dalam diri. Keduanya dapat saling menguatkan sehingga manusia terdorong kepada kemaksiatan.





3. Kalimat "Dari aku menuju Dia" sangat indah sebagai bahasa sastra tasawuf. Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, dapat dipahami sebagai:


> Dari ego yang mendominasi menuju penghambaan yang tulus kepada Allah. Hal ini menjaga agar tidak disalahartikan sebagai konsep penyatuan dengan Allah yang bukan bagian dari akidah Islam.





4. Akan lebih kuat jika ditutup dengan firman Allah yang menegaskan hakikat penyerahan diri, misalnya:


> "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." (QS. Al-Qur'an)






atau:


> "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Qur'an)




Secara keseluruhan, tulisan ini menyampaikan pesan yang mendalam: hakikat perjalanan seorang hamba bukanlah membuat Allah mengikuti keinginannya, melainkan mendidik dirinya agar rela mengikuti kehendak Allah. Pesan tersebut selaras dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan menjadi renungan yang baik selama tetap dipahami dalam koridor akidah Islam yang lurus.


Tulisan ini memiliki alur yang kuat dan bernuansa reflektif. Gagasan utamanya konsisten: perjalanan seorang mukmin adalah proses menundukkan kehendak diri kepada kehendak Allah. Penyusunan dari sabar → ikhlas → penyerahan diri juga mengalir dengan baik.


Ada beberapa catatan agar lebih presisi secara akidah dan mudah dipahami:


1. Frasa "Iman mengakui Allah" dapat diperdalam. Dalam ajaran Islam, iman bukan hanya pengakuan, tetapi juga keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pembuktian dengan amal.

 Misalnya:

> Iman adalah keyakinan kepada Allah yang bersemayam di hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.

2. Bagian tentang iblis sudah baik, namun perlu kehati-hatian agar tidak terkesan menyamakan nafsu dengan iblis. Lebih tepat jika dijelaskan bahwa:

> Iblis menggoda dari luar, sedangkan hawa nafsu dari dalam diri. Keduanya dapat saling menguatkan sehingga manusia terdorong kepada kemaksiatan.

3. Kalimat "Dari aku menuju Dia" sangat indah sebagai bahasa sastra tasawuf. Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, dapat dipahami sebagai:

> Dari ego yang mendominasi menuju penghambaan yang tulus kepada Allah. Hal ini menjaga agar tidak disalahartikan sebagai konsep penyatuan dengan Allah yang bukan bagian dari akidah Islam.

4. Akan lebih kuat jika ditutup dengan firman Allah yang menegaskan hakikat penyerahan diri, misalnya:

> "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." (QS. Al-Qur'an)

atau:


> "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Qur'an)




Secara keseluruhan, tulisan ini menyampaikan pesan yang mendalam: hakikat perjalanan seorang hamba bukanlah membuat Allah mengikuti keinginannya, melainkan mendidik dirinya agar rela mengikuti kehendak Allah. Pesan tersebut selaras dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan menjadi renungan yang baik selama tetap dipahami dalam koridor akidah Islam yang lurus..

Āmīn yā Rabbal 'ālamīn


📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏    


Bismillaah. . .   

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


*أَعُوْalذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


 وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

_"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."_

(QS. Yusuf 12: Ayat 53)

Shodaqolloh hul'adzim.

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yusuf sebagai manusia mengakui bahwa setiap nafsu cenderung dan mudah disuruh untuk berbuat jahat kecuali jika diberi rahmat dan mendapat perlindungan dari Alloh. Yusuf selamat dari godaan istri al-Aziz karena limpahan rahmat Alloh dan perlindungan-Nya, meskipun sebagai manusia Yusuf juga tertarik pada istri al-Aziz sebagaimana perempuan itu tertarik kepadanya seperti diterangkan pada ayat 24:


وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖ


*Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.* (Yusuf 12:24)


Tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ayat 53 ini menerangkan pengakuan istri al-Aziz dengan terharu dan rasa penyesalan yang mendalam bahwa dia tidak dapat membersihkan dirinya dari kesalahan dan ketelanjuran. Dia juga mengakui bahwa memang dia yang hampir mengkhianati suaminya dengan merayu Yusuf ketika suaminya tidak di rumah. Untuk menjaga nama baik diri, suami, dan keluarganya, dia menganjurkan supaya Yusuf dipenjarakan, atau ditimpakan kepadanya siksaan yang pedih. Istri al-Aziz telah melakukan kesalahan ganda, yaitu berdusta dan menuduh orang yang jujur dan bersih serta menjebloskannya ke penjara.


*Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa Alloh Maha Pengampun dan Maha Penyayang.* ✳️


🤲 🤲 🤲

*رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا فَا غْفِرْ لَـنَا وَا رْحَمْنَا وَاَ نْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ *

*_Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik._*.                

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin


Wassalam,


☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

melaksanakan *Sholat Tahajud*. . .

Wargi-wargi *Sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘.

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ayat yang Anda bagikan, QS. Yusuf ayat 53, mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat manusia dan pentingnya rahmat Allah.

Tadabbur Singkat QS. Yusuf: 53

Allah berfirman:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yusuf: 53)

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik:

  1. Jangan merasa suci dari dosa. Seorang mukmin tidak menganggap dirinya pasti benar. Ia selalu melakukan muhasabah dan memohon ampun kepada Allah.

  2. Nafsu memiliki kecenderungan kepada keburukan. Karena itu, nafsu harus dikendalikan dengan iman, ilmu, zikir, ibadah, dan lingkungan yang baik.

  3. Rahmat Allah adalah pelindung utama. Nabi Yusuf `alaihis salam selamat dari godaan bukan karena kekuatannya semata, tetapi karena pertolongan dan rahmat Allah.

  4. Pintu taubat selalu terbuka. Penutup ayat dengan sifat Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) memberi harapan bahwa siapa pun yang bertaubat dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan ampunan-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mengendalikan hawa nafsu, senantiasa memohon rahmat-Nya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Doa:

رَبَّنَا آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

"Ya Allah, karuniakanlah kepada jiwa kami ketakwaannya, sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemiliknya." (Maknanya diambil dari doa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadis sahih).

Semoga Allah menerima shalat Tahajud, mengampuni dosa-dosa kita, melimpahkan rahmat-Nya, dan mengangkat kita ke maqāman maḥmūdā (tempat yang terpuji). Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

#########################

📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏    


Bismillaah. . .

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


*أَعُوْalذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ

_"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Alloh. Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Alloh menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."_

(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)


Shodaqolloh hul'adzim,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Ayat ini menjelaskan bahwa Alloh swt menugaskan kepada beberapa malaikat untuk selalu mengikuti manusia secara bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Alloh. Ada malaikat yang bertugas menjaga manusia di malam hari, dan ada yang di siang hari, menjaga dari pelbagai bahaya dan kemudaratan. Ada pula malaikat yang mencatat semua amal perbuatan manusia, yang baik atau yang buruk, yaitu malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri. Malaikat yang berada di sebelah kanan mencatat segala kebaikan, dan yang di sebelah kiri mencatat amal keburukan, dan dua malaikat lainnya, yang satu di depan dan satu lagi di belakang. Setiap orang memiliki empat malaikat empat pada siang hari dan empat pada malam hari. Mereka datang secara bergiliran, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang shohih: *Ada beberapa malaikat yang menjaga kamu secara bergiliran di malam hari dan di siang hari. Mereka bertemu (untuk mengadakan serah terima) pada waktu sholat Subuh dan sholat Ashar, lalu naiklah malaikat-malaikat yang menjaga di malam hari kepada Alloh Ta'ala. Dia bertanya, sedangkan Ia sudah mengetahui apa yang akan ditanyakannya itu, _"Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kamu meninggalkan mereka (di dunia)?"_ Malaikat menjawab, _"Kami datang kepada mereka ketika sholat dan kami meninggalkan mereka, dan mereka pun sedang sholat."_* (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah) 

Apabila manusia mengetahui bahwa di sisinya ada malaikat-malaikat yang mencatat semua amal perbuatan dan mengawasinya, maka dia harus selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat karena setiap aktivitasnya akan dilihat oleh malaikat-malaikat itu. Pengawasan malaikat terhadap perbuatan manusia dapat diyakini kebenarannya setelah ilmu pengetahuan menciptakan alat-alat modern yang dapat mencatat semua kejadian yang terjadi pada diri manusia. Sebagai contoh, alat pengukur pemakaian aliran listrik dan air minum di tiap-tiap kota dan desa telah diatur sedemikian rupa sehingga dapat diketahui berapa jumlah yang telah dipergunakan dan berapa yang harus dibayar oleh si pemakai. Demikian pula alat-alat yang dipasang di kendaraan bermotor yang dapat mencatat kecepatannya dan mengukur berapa jarak yang telah ditempuh. Perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat mengungkapkan bermacam-macam perkara gaib, sebagai bukti yang dapat memberi keyakinan kepada kita tentang benarnya teori ketentuan agama. Hal itu juga menjadi sebab untuk meyakinkan orang-orang yang dikuasai oleh doktrin kebendaan, sehingga mereka mengakui adanya hal-hal gaib yang tidak dapat dirasakan dan diketahui hanya dengan panca indera. Oleh karena itu, sungguh tepat orang yang mengatakan bahwa kedudukan agama dan pengetahuan dalam Islam laksana dua anak kembar yang tidak dapat dipisahkan, atau seperti dua orang kawan yang selalu bersama seiring sejalan dan tidak saling berbantahan. Malaikat-malaikat itu menjaga manusia atas perintah Alloh dan seizin-Nya. Mereka menjalankan tugas dengan sempurna. Sebagaimana dalam alam kebendaan ada hubungan erat antara sebab dan akibat, sesuai dengan hikmahnya, seperti adanya pelupuk mata yang dapat melindungi mata dari benda yang mungkin masuk dan bisa merusaknya, demikian pula dalam kerohanian, Alloh telah menugaskan beberapa malaikat untuk menjaga manusia dari berbagai kemudaratan dan godaan hawa nafsu dan setan. Alloh swt telah menugaskan para malaikat itu untuk mencatat amal perbuatan manusia meskipun kita tidak tahu bagaimana cara mereka mencatat. Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh sendiri cukup untuk mengetahuinya, tetapi mengapa Dia masih menugaskan malaikat untuk mencatatnya? Mungkin di dalamnya terkandung hikmah agar manusia lebih tunduk dan berhati-hati dalam bertindak karena kemahatahuan Alloh melingkupi mereka. Amal mereka terekam dengan akurat sehingga kelak tidak ada yang merasa dizalimi dalam pengadilan Alloh. 

Ali bin Abi Talib mengatakan bahwa *tidak ada seorang hamba pun melainkan ada malaikat yang menjaganya dari kejatuhan tembok, jatuh ke dalam sumur, dimakan binatang buas, tenggelam, atau terbakar. Akan tetapi, bilamana datang kepastian dari Alloh atau saat datangnya ajal, mereka membiarkan manusia ditimpa oleh bencana dan sebagainya. Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa dari kenikmatan dan kesejahteraan yang dinikmatinya menjadi binasa dan sengsara, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya.*

Hal tersebut diakibatkan oleh perbuatan aniaya dan saling bermusuhan, serta berbuat kerusakan dan dosa di muka bumi. 

Hadits Rasulullah saw: *Jika manusia melihat seseorang yang dzolim dan tidak bertindak terhadapnya, maka mungkin sekali Alloh akan menurunkan azab yang mengenai mereka semuanya.* (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Bakar ash-shiddiq) 

Pernyataan ini diperkuat dengan firman Alloh: *Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzolim saja di antara kamu.* (al-Anfal 8: 25) 

Kaum muslimin pada fase pertama penyebaran Islam telah mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur'an dengan penuh keyakinan dan kesadaran, sehingga mereka menjadi umat terbaik di antara manusia. Mereka menguasai berbagai kawasan yang makmur pada waktu itu, serta mengalahkan kerajaan Roma dan Persia dengan menjalankan kebijaksanaan dalam pemerintahan yang adil, dan disaksikan oleh musuh-musuhnya. Orang-orang yang teraniaya dibela dalam rangka menegakkan keadilan. Oleh karena itu, agama Islam telah diakui sebagai unsur mutlak dalam pembinaan karakter bangsa dan pembangunan negara. Setelah generasi mereka berlalu dan diganti dengan generasi yang datang kemudian, ternyata banyak yang melalaikan ajaran agama tentang keadilan dan kebenaran, sehingga keadaan mereka berubah menjadi bangsa yang hina. Padahal sebelum itu, mereka merupakan bangsa yang terhormat, berwibawa, mulia, dan disegani oleh kawan maupun lawan. Mereka menjadi bangsa yang diperbudak oleh kaum penjajah, padahal sebelumnya mereka sebagai penguasa. Mereka menjadi bangsa yang mengekor, padahal dahulunya mereka merupakan bangsa yang memimpin. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya telah mencantumkan sebuah bab dengan judul: Kezaliman dapat Menghancurkan Kemakmuran. Beliau mengemukakan beberapa contoh dalam sejarah sebelum dan sesudah Islam, bahwa kezaliman itu menghancurkan kekuasaan umat Islam dan merendahkan derajatnya, sehingga menjadi rongrongan dari semua bangsa. Umat Islam yang pernah jaya terpuruk beberapa abad lamanya di bawah kekuasaan dan penjajahan orang Barat. 

_*Apabila Alloh menghendaki keburukan bagi suatu kaum dengan penyakit, kemiskinan, atau bermacam-macam cobaan yang lain sebagai akibat dari perbuatan buruk yang mereka kerjakan, maka tak ada seorang pun yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Alloh.*_ ✳️


🤲 🤲 🤲

 رَبَّنَا فَا غْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَ بْرَا رِ 

*_"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti."_*

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin


Wassalam,


☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

mendirikan *sholat tahajud*. . . Wargi-wargi *sholat yuuu*. . . 

*Untuk meraih TEMPAT TERPUJI.*

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘.

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.


Tadabbur singkat dari QS. Ar-Ra'd ayat 11:


1. Allah menjaga manusia melalui para malaikat.

Setiap manusia berada dalam penjagaan Allah dengan perantaraan malaikat yang bertugas atas perintah-Nya. Penjagaan ini berlangsung selama Allah menghendakinya, hingga datang ajal yang telah ditetapkan.


2. Perubahan dimulai dari diri sendiri.

Firman Allah:


> "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra'd: 11)




Maknanya, perubahan menuju kebaikan memerlukan perubahan iman, akhlak, niat, dan amal. Kita diperintahkan berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah.


3. Dosa dan kezaliman dapat mengundang musibah.

Apabila suatu masyarakat membiarkan kezaliman, kemaksiatan, dan kerusakan tanpa berusaha memperbaikinya, mereka terancam mendapatkan akibat yang menimpa banyak orang. Karena itu, amar makruf nahi mungkar merupakan tanggung jawab bersama dengan cara yang bijaksana dan sesuai syariat.


4. Semua amal dicatat.

Kesadaran bahwa setiap ucapan dan perbuatan diketahui Allah serta dicatat oleh malaikat hendaknya mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak, dan menjaga hati.


Pelajaran yang dapat diamalkan:


Perbanyak taubat dan istighfar.


Perbaiki diri sebelum menuntut orang lain berubah.


Tegakkan keadilan dan jauhi kezaliman.


Istiqamah dalam shalat, terutama Subuh, Ashar, dan Tahajud.


Perbanyak doa agar Allah menjaga diri, keluarga, dan masyarakat.



Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa memperbaiki diri, menjaga ketaatan, dan memperoleh rahmat serta perlindungan-Nya.


اللهم أصلح لنا ديننا ودنيانا وآخرتنا، واجعلنا من عبادك الصالحين. آمين.


📖✍🎓 🕌 🗳🍃🌷🌾🍏    


Bismillaah. . .

Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


*أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم*


وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ 

_"Dan orang yang sabar karena mengharap keridhoan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),"_


جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍ 

_"(yaitu) surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang sholeh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;"_


سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ  

_"(sambil mengucapkan), *"Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu."* Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu."_

(QS. Ar-Ra'd: Ayat 22-24)


Shodaqolloh hul'adzim,

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘


Subhanalloh. . Walhamdulillah. . . 

Al-Qur’an memberi gambaran bagaimana indahnya kehidupan di akhirat nanti bagi orang *yang beriman dan beramal sholeh serta sabar* dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini. . . Yaitu *Orang yang sabar karena mengharap keridhoan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan,* orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik, yaitu menempati surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang sholeh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, sambil mengucapkan:  

_*Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.*_ 

*Alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.* ✳️


🤲 🤲 🤲

*_Semoga kita termasuk di dalamnya. . ._* 

🤲 Aamiin Ya Robbal'Alamiin


Wassalam,


☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘

*Alhamdulillah* sekarang saatnya 

yang paling baik untuk 

mendirikan *sholat tahajud*. . . Wargi-wargi *sholat yuuu*. . . 

☘🍃🌾🌻🌷🌻🌾🍃☘.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang sehari hari

Dasar berzikir di masjid ,surau dan mushola