Tatanan jalan ke sucian.

 1


Berkata pada guru yang diabdinya Ratu Wahdat

Ratu Wahdat nama gurunya

Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung

Ia minta maaf

Ingin tahu hakikat

Dan seluk beluk ajaran agama

Sampai rahasia yang terdalam.

Sepuluh tahun lamanya Sudah Berguru kepada Sang Wali

Namun belum mendapat ajaran utama.

Bekerja sebagai abdi raja

Sastra Arab telah ia pelajari

Ia menyembah di depan gurunya

Kemudian berkata

Seraya menghormat

Minta maaf


“Dengan tulus saya mohon

Di telapak kaki tuan Guru

Mati hidup hamba serahkan

Sastra Arab telah tuan ajarkan

Dan saya telah menguasainya

Namun tetap saja saya bingung

Mengembara kesana-kemari

Tak berketentuan.

Dulu hamba berlakon sebagai pelawak

Bosan sudah saya

Menjadi bahan tertawaan orang


Ya Syekh al-Mukaram!

Uraian kesatuan huruf

Dulu dan sekarang

Yang saya pelajari tidak berbeda

Tidak beranjak dari tatanan lahir

Tetap saja tentang bentuk luarnya.

Meninggalkan semua yang dicintai

Namun tak menemukan sesuatu apa , Sebagai penawar

Diam-diam saya pergi malam-malam

Mencari rahasia Yang Satu dan jalan sempurna

Semua pendeta dan ulama hamba temui

Agar terjumpa hakikat hidup

Akhir kuasa sejati

Ujung utara selatan

Tempat matahari dan bulan terbenam

Akhir mata tertutup dan hakikat maut

Akhir ada dan tiada.


Ratu Wahdat tersenyum lembut

Sungguh lancang 

Tuturmu tak lazim

Berani menagih imbalan tinggi

Demi pengabdianmu padaku

Tak patut aku disebut Sang Arif

Andai hanya uang yang diharapkan

Dari jerih payah mengajarkan ilmu

Jika itu yang kulakukan

Tak perlu aku menjalankan tirakat.

Siapa mengharap imbalan uang

Demi ilmu yang ditulisnya

Ia hanya memuaskan diri sendiri

Dan berpura-pura tahu segala hal

Seperti bangau di sungai

Diam, bermenung tanpa gerak.

Pandangnya tajam, pura-pura suci

Di hadapan mangsanya ikan-ikan

Ibarat telur, dari luar kelihatan putih

Namun isinya berwarna kuning


Matahari terbenam, malam tiba

menumpuk potongan kayu

Membuat perapian, memanaskan

Tempat pesujudan Sang Zahid

Di tepi pantai sunyi ,

Desa itu gersang

Bahan makanan tak banyak

Hanya gelombang laut

Memukul batu karang

Dan menakutkan


Sang Arif berkata lembut

“ kemarilah!”

Dipegangnya kucir rambut,

Seraya dielus-elus

Tanda kasihsayangnya

“ dengar sekarang

Jika kau harus masuk neraka

Karena kata-kataku

Aku yang akan menggantikan tempatmu”

“Ingatlah, waspadalah!

Hidup di dunia ini

Jangan ceroboh dan gegabah

Sadarilah dirimu

Bukan yang Haqq

Dan Yang Haqq bukan dirimu

Orang yang mengenal dirinya

Akan mengenal Tuhan

Asal usul semua kejadian

Inilah jalan makrifat sejati”


pandangmu

Jadikan sepenuh dirimu Cinta

Tumpukan pikiran, heningkan cipta

Jangan bercerai siang malam

Yang kaulihat di sekelilingmu

Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!


Dunia ini  luluh lantak

Disebabkan oleh keinginanmu

Kini, ketahui yang tidak mudah rusak

Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna

Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi

Bentangan pengetahuan ini luas

Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya

Orang yang mengenal hakikat

Dapat memuja dengan benar

Selain yang mendapat petunjuk ilahi

Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini

Karena itu, kenali dirimu

Kenali dirimu yang sejati

Ingkari benda

Agar nafsumu tidur terlena

Dia yang mengenal diri

Nafsunya akan terkendali

Dan terlindung dari jalan

Sesat dan kebingungan

Kenal diri, tahu kelemahan diri

Selalu awas terhadap tindak tanduknya.

Bila kau mengenal dirimu

Kau akan mengenal Tuhanmu

Orang yang mengenal Tuhan

Bicara tidak sembarangan

Ada yang menempuh jalan panjang

Dan penuh kesukaran

Sebelum akhirnya menemukan dirinya

Dia tak pernah membiarkan dirinya

Sesat di jalan kesalahan

Jalan yang ditempuhnya benar.

Wujud Tuhan itu nyata

Mahasuci, lihat dalam keheningan

Ia yang mengaku tahu jalan

Sering tindakannya menyimpang

Syariat agama tidak dijalankan

Kesalehan dicampakkan ke samping

Padahal orang yang mengenal Tuhan

Dapat mengendalikan hawa nafsu

Siang malam penglihatannya terang

Tidak disesatkan oleh khayalan


Diam dalam tafakur, 

Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)

Memuja tanpa selang waktu

Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)

Disebabkan oleh makrifat

Tubuhnya akan bersih dari noda

Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini

Dari orang arif yang tahu

Agar kau mencapai hakikat

Yang merupakan sumber hayat. jangan memuja Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja

Juga sia-sia orang memuja

Tanpa kehadiran Yang Dipuja

Walau Tuhan tidak di depan kita

Pandanglah adamu

Sebagai isyarat ada-Nya

Inilah makna diam dalam tafakur

Asal mula segala kejadian menjadi nyata.

Renungi pula!

Hakikat sejati kemauan

Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita

Berpikir dan menyebut suatu perkara

Bukan kemauan murni

Kemauan itu sukar dipahami

Seperti halnya memuja Tuhan

Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak

Pun tidak membuatmu membenci orang

Yang dihukum dan dizalimi

Serta orang yang berselisih paham.

Orang berilmu

Beribadah tanpa kenal waktu

Seluruh gerak hidupnya

Ialah beribadah

Diamnya, bicaranya

Dan tindak tanduknya

Malahan getaran bulu roma tubuhnya

Seluruh anggota badannya

Digerakkan untuk beribadah

Inilah kemauan murni


Kemauan itu!

Lebih penting dari pikiran

Untuk diungkapkan dalam kata

Dan suara sangatlah sukar

Kemauan bertindak

Merupakan ungkapan pikiran

Niat melakukan perbuatan

Adalah ungkapan perbuatan

Melakukan shalat atau berbuat kejahatan

Keduanya buah dari kemauan.


Inilah gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetulkan jalan tempat berpindah

Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah

Wahai muda kenali dirimu

Ialah perahu tamsil tubuhmu

Tiada berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal diammu

Hai muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan

La ilaha illa Allah tempat mengintai

Medan yang qadim tempat berdamai

Wujud Allah terlalu bitai

Siang malam jangan bercerai.


Adapun pendirian saya adalah, bahwa imam tauhid dan makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempurna, sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, maka belumlah cukup, sebab ia masih insaf akan itu. Maksud saya adalah bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang itu tiada mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tidak mempunyai kemauan sendiri. dan seseorang itu adalah seumpama buta, tuli dan bisu. Segala gerakannya itu datang dari Allah.

Jadilah Allah awwal segalanya..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang sehari hari

Dasar berzikir di masjid ,surau dan mushola

Belajar tanpa guru.