Araai Perpecahan dari awal

 

PERPECAHAN MASYARAKAT.


Segala bentuk perpecahan ummat telah di ceritakan Alquran , maka tugas kitalah untuk menghindari keadaan keadaan masyarakat yang meng arah pada yang di ceritakan Al Qur'an ini. Inilah Tugas mulia perangkat Adat di Nagori Nagori , Tugas kita Semua. 

1.  QS. At-Taubah ayat 107, yang terkenal dengan kisah Masjid Dhirar. Ayat ini mengajarkan bahwa Allah tidak hanya melihat bentuk lahiriah suatu amal, tetapi juga niat dan tujuan di baliknya.


Latar belakang turunnya ayat,

Menurut banyak kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurthubi, sekelompok orang munafik di Madinah membangun sebuah masjid. Secara lahiriah tampak sebagai tempat ibadah, tetapi tujuan sebenarnya bukan untuk beribadah kepada Allah.


Tujuan mereka ada empat, sebagaimana disebutkan langsung dalam ayat:


1. ضِرَارًا (dirāran) – untuk menimbulkan mudarat bagi kaum mukmin. Maksudnya, keberadaan masjid itu dijadikan sarana melemahkan dan menyakiti umat Islam.

2. وَكُفْرًا (wa kufran) – untuk mendukung kekafiran. Masjid itu dijadikan markas orang-orang yang memusuhi Islam.

3. وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ (wa tafrīqan bainal mu'minīn) – untuk memecah belah kaum mukmin. Mereka ingin agar umat Islam terpecah, tidak lagi bersatu di Masjid Quba atau Masjid Nabawi.

4. وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ (wa irṣādan liman hāraballāha wa rasūlah) – menjadi tempat menunggu atau membantu orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Yang dimaksud menurut mayoritas ahli tafsir adalah Abu 'Amir ar-Rahib, seorang yang memusuhi Nabi ﷺ dan bersekutu dengan musuh-musuh Islam.

Mereka berdalih dengan niat baik


Orang-orang munafik berkata:

> "Kami hanya menghendaki kebaikan."


Namun Allah langsung membantah:


> "Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka benar-benar pendusta."


Ini menunjukkan bahwa ucapan baik tidak dapat menutupi niat yang buruk.


Apa yang dilakukan Nabi ﷺ?


Ketika pulang dari Perang Tabuk, Nabi ﷺ menerima wahyu ini. Beliau tidak jadi shalat di Masjid Dhirar, bahkan memerintahkan agar bangunan itu dihancurkan karena dibangun atas dasar kemunafikan, bukan ketakwaan.


Hal ini dilanjutkan pada ayat berikutnya (QS. At-Taubah: 108):


> "Janganlah engkau melaksanakan shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih patut engkau shalat di dalamnya."

Pelajaran penting dari ayat ini

Allah menilai niat sekaligus tujuan sebuah amal.


Tempat ibadah sekalipun bisa menjadi tercela apabila dijadikan alat untuk memecah belah umat.


Persatuan kaum mukmin adalah nikmat yang harus dijaga.


Jangan mudah tertipu oleh slogan atau klaim "demi kebaikan"; setiap ajakan harus diukur dengan Al-Qur'an dan Sunnah.


Masjid harus menjadi tempat yang dibangun di atas takwa, bukan kepentingan pribadi, politik, atau permusuhan.


"""Perlu juga dipahami bahwa """"ayat ini turun mengenai peristiwa dan kelompok tertentu, yaitu orang-orang munafik pada masa Nabi ﷺ. Karena itu, para ulama mengingatkan agar tidak mudah "melabeli masjid atau kelompok tertentu""" sebagai """Masjid Dhirar""" tanpa bukti yang sangat jelas dan tanpa dasar syar'i. Menjadikan ayat ini untuk menghakimi sesama Muslim secara serampangan justru bertentangan dengan kehati-hatian yang diajarkan para ulama tafsir.


Semoga Allah menjadikan setiap masjid yang kita bangun dan makmurkan benar-benar didirikan di atas dasar takwa, bukan untuk kepentingan yang memecah belah umat. Aamiin.


2. QS. Ar-Rum ayat 31 - 32. 

Allah berfirman:

> "...dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka."

(QS. Ar-Rum: 31–32)

Tafsir ayat

Menurut para mufasir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan As-Sa'di, ayat ini mencela orang-orang yang:

1. Memecah belah agama Allah, padahal agama yang dibawa para nabi adalah agama tauhid.

2. Menjadikan agama sebagai kelompok-kelompok (syi'a) yang saling bertentangan karena mengikuti hawa nafsu, fanatisme, atau penyimpangan dari kebenaran.

3. Merasa paling benar sehingga membanggakan kelompoknya dan merendahkan yang lain, tanpa mau kembali kepada dalil.

Kalimat:

> كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

berarti:

> "Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka."

Maksudnya, masing-masing kelompok merasa dirinya yang paling benar, meskipun bisa jadi telah menyimpang dari petunjuk Allah.

Apakah semua perbedaan termasuk yang dicela?

Tidak. Para ulama membedakan antara:

Ikhtilaf yang dibenarkan, yaitu perbedaan pendapat dalam masalah cabang (furu') yang didasarkan pada dalil dan ijtihad yang benar.

Perpecahan yang tercela, yaitu perpecahan karena hawa nafsu, fanatisme golongan, kepentingan dunia, atau meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Karena itu, ayat ini bukan berarti semua perbedaan pendapat haram, tetapi mencela perpecahan yang membuat umat saling bermusuhan dan menjadikan identitas kelompok lebih utama daripada kebenaran.

Pelajaran yang dapat diambil

Seorang Muslim diperintahkan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Jangan fanatik kepada kelompok, organisasi, tokoh, atau mazhab hingga menolak kebenaran ketika datang dari pihak lain.

Persatuan umat dibangun di atas kebenaran, bukan sekadar berkumpul tanpa prinsip.

Hendaknya kita bersikap rendah hati, menerima kebenaran berdasarkan dalil, dan menjaga ukhuwah Islamiyah meskipun terdapat perbedaan yang dibenarkan.

Ayat ini juga sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran ayat 103:


> "Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

Pesan utamanya adalah bahwa Islam melarang perpecahan yang lahir dari kesombongan, fanatisme, dan penyimpangan dari petunjuk Allah, sekaligus mendorong persatuan di atas iman, ilmu, dan akhlak yang baik.


3. QS. Al-An'am ayat 159, salah satu ayat yang sangat kuat dalam mengingatkan bahaya perpecahan dalam agama.

Allah berfirman:

> "Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi beberapa golongan, engkau (Muhammad) sama sekali tidak termasuk golongan mereka. Urusan mereka hanyalah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."

(QS. Al-An'am: 159)

Tafsir ayat

Menurut para mufasir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Baghawi, dan As-Sa'di:

1. "Memecah-belah agama mereka" (فَرَّقُوا دِينَهُمْ)

Yang dimaksud adalah memecah agama Allah menjadi berbagai aliran atau kelompok yang saling bertentangan karena mengikuti hawa nafsu, meninggalkan petunjuk wahyu, atau membuat ajaran yang tidak berasal dari Allah.

Pada awalnya ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab yang berselisih setelah datang penjelasan kepada mereka. Namun banyak ulama menjelaskan bahwa kandungannya juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak menempuh jalan yang sama.

2. "Mereka menjadi golongan-golongan" (وَكَانُوا شِيَعًا)

Mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling membela kelompoknya, bahkan terkadang saling menyalahkan dan memusuhi.

3. "Engkau (Muhammad) tidak termasuk golongan mereka."

Ini adalah penegasan bahwa Rasulullah ﷺ berlepas diri dari cara mereka yang memecah belah agama. Maksudnya bukan beliau tidak peduli terhadap mereka, tetapi beliau tidak menyetujui dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan tersebut.

4. "Urusan mereka kepada Allah."

Allah-lah yang akan mengadili mereka dengan seadil-adilnya berdasarkan apa yang mereka lakukan.


Pelajaran dari ayat

Islam memerintahkan umat untuk bersatu di atas Al-Qur'an dan Sunnah.


Fanatisme terhadap kelompok, tokoh, atau organisasi tidak boleh mengalahkan kecintaan kepada kebenaran.

Perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah yang didasarkan pada dalil tidak otomatis termasuk perpecahan yang dicela. Para sahabat sendiri pernah berbeda pendapat dalam beberapa masalah fikih, tetapi tetap saling menghormati dan tidak keluar dari persatuan umat.

Yang dicela adalah menjadikan agama terpecah karena hawa nafsu, bid'ah yang menyelisihi pokok agama, atau permusuhan yang memecah persaudaraan kaum Muslim.

Menghubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya

Tiga ayat yang memiliki tema yang saling berkaitan:

QS. At-Taubah: 107 mengutuk orang yang menggunakan agama atau masjid untuk merusak dan memecah belah kaum mukmin.

QS. Ar-Rum: 32 mencela orang yang menjadikan agama terpecah menjadi golongan-golongan dan masing-masing bangga dengan golongannya.

QS. Al-An'am: 159 menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ berlepas diri dari orang-orang yang memecah belah agama dengan cara yang menyimpang.

Keseluruhan ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa persatuan yang diperintahkan dalam Islam adalah persatuan di atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya, bukan persatuan yang mengabaikan kebenaran, dan bukan pula fanatisme golongan yang mengalahkan ajaran Islam itu sendiri. Karena itu, para ulama menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar, sekaligus menjaga adab, keadilan, dan ukhuwah di tengah adanya perbedaan yang memang dibenarkan syariat.

Alhamdulillah bila kita tak mampu mengatasi nya ,kita tak di beri dosa , 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَـفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَا زِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْـتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), "Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.""

(QS. Al-An'am 6: Ayat 164).

Dan juga kita di ingatkan untuk mengawal diri untuk selalu fokus pada Alloh  bahwa perselisihan selalu timbul bila kita sama sama mengetahui.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَاٰ تَيْنٰهُمْ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْاَ مْرِ ۚ فَمَا اخْتَلَفُوْۤا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ ۙ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ اِنَّ رَبَّكَ يَقْضِيْ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَا نُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

"Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sungguh, Tuhanmu akan memberi putusan kepada mereka pada hari Kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan."

(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 17).

-PENURUP-

Bagi urang Minangkabau, menjaga persatuan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga adat, tetapi amanah setiap anak nagari. Adat Minangkabau hidup dalam diri setiap urang Minang. Karena itu, setiap urang Minang adalah bagian dari penjaga adat sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Sebagaimana falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), persatuan harus dibangun di atas nilai-nilai Islam, keadilan, musyawarah, dan kasih sayang, bukan di atas fanatisme golongan atau kepentingan pribadi.

 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga nagari-nagari kita dari perpecahan dan menghimpun hati kita di atas kebenaran. Aamiin.

Terima kasih .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang sehari hari

Dasar berzikir di masjid ,surau dan mushola

Belajar tanpa guru.