BAB VI HEDONISME MENURUT AL-QUR'AN DAN HADIS

 BAB VI HEDONISME MENURUT AL-QUR'AN DAN HADIS


Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemudahan hidup merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang patut disyukuri. Namun, kemajuan tersebut juga membawa tantangan besar ketika manusia menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama hidup. Gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan, kemewahan, dan pemuasan hawa nafsu dikenal dengan istilah hedonisme.

Istilah hedonisme tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an, tetapi sifat-sifat yang melandasinya dijelaskan dengan sangat jelas. Islam tidak melarang menikmati rezeki yang halal, bahkan Allah memerintahkan manusia memanfaatkan nikmat-Nya dengan penuh syukur. Yang dilarang adalah menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan hidup hingga melupakan Allah, kewajiban agama, dan kehidupan akhirat.

Allah berfirman:

«"Tetapi kamu lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal."(QS. Al-A'la: 16–17)»

Ayat ini mengingatkan bahwa seorang mukmin harus mampu menempatkan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai tujuan akhir kehidupannya.

1. Mengikuti Hawa Nafsu

Ciri utama hedonisme adalah menjadikan hawa nafsu sebagai penentu benar dan salah.

Allah berfirman:

«"Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?"(QS. Al-Jatsiyah: 23)»

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa kesempurnaan iman menuntut seseorang menundukkan hawa nafsunya kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Pelajaran:

Orang yang bertakwa mengendalikan hawa nafsunya, bukan dikendalikan oleh hawa nafsu.

2. Lebih Mencintai Dunia daripada Akhirat

Hedonisme menjadikan dunia sebagai orientasi utama sehingga akhirat terlupakan.

Allah berfirman:

«"Tetapi kamu lebih memilih kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal."(QS. Al-A'la: 16–17)»

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."(HR. Al-Bukhari)»

Pelajaran:

Seorang mukmin memanfaatkan dunia sebagai ladang amal untuk memperoleh kebahagiaan akhirat.


3. Hidup Bermewah-mewahan

Kemewahan yang melahirkan kesombongan dan melalaikan ibadah merupakan salah satu ciri masyarakat yang dibinasakan Allah.

Allah berfirman:

«"Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat), tetapi mereka melakukan kefasikan...."(QS. Al-Isra': 16)»

Pelajaran:

Kemewahan bukanlah kesalahan, tetapi menjadi bahaya apabila melahirkan kesombongan dan kefasikan.


4. Berlebih-lebihan dalam Menikmati Nikmat

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menikmati rezeki Allah.

Allah berfirman:

«"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."(QS. Al-A'raf: 31)»

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya."

(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)»

Pelajaran:

Kesederhanaan merupakan bagian dari akhlak seorang mukmin.

5. Lalai Mengingat Allah

Kesibukan mengejar kesenangan sering membuat manusia melupakan ibadah.

Allah berfirman:

«"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu."(QS. At-Takatsur: 1–2)»

Allah juga berfirman:

«"Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah."(QS. Al-Munafiqun: 9)»

Pelajaran:

Segala kenikmatan dunia seharusnya semakin mendekatkan seorang mukmin kepada Allah.

6. Boros dan Menghamburkan Harta

Hedonisme sering melahirkan pemborosan demi gengsi dan kesenangan sesaat.

Allah berfirman:

«"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan."(QS. Al-Isra': 26–27)»

Pelajaran:

Harta adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


7. Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan Hidup

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Barang siapa yang tujuan utamanya adalah dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya."

(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)»


Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama akan memperoleh ketenangan hati dan keberkahan hidup.


8. Tertipu oleh Gemerlap Dunia

Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.

«"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba memperbanyak harta serta anak...."(QS. Al-Hadid: 20)»

Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Dunia itu manis dan hijau (menarik), dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal."(HR. Muslim)»

Pelajaran:

Dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai dunia memiliki hati seorang mukmin.


Dampak Hedonisme

Apabila hedonisme menguasai individu dan masyarakat, akan muncul berbagai kerusakan, di antaranya:

- Lemahnya ketakwaan.

- Lalai dalam ibadah.

- Meningkatnya pemborosan dan gaya hidup konsumtif.

- Hilangnya rasa syukur.

- Rusaknya akhlak.

- Melemahnya kepedulian sosial.

- Meningkatnya kecemasan dan kekosongan spiritual.

- Hilangnya keberkahan hidup.


Solusi Islam Menghadapi Hedonisme

Al-Qur'an dan sunnah memberikan solusi agar seorang mukmin tidak terjerumus dalam gaya hidup hedonis, yaitu:

1. Menguatkan tauhid.

2. Menanamkan keyakinan kepada hari akhir.

3. Membiasakan hidup sederhana (zuhud dalam makna tidak diperbudak dunia).

4. Menjaga salat dan memperbanyak zikir.

5. Memperbanyak sedekah dan infak.

6. Bersyukur atas nikmat Allah.

7. Mengendalikan hawa nafsu melalui ibadah.

8. Memilih lingkungan yang saleh.

9. Mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

10. Menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman hidup.

Kesimpulan

Islam tidak mengharamkan kenikmatan dunia yang halal. Yang dilarang adalah menjadikan kenikmatan tersebut sebagai tujuan hidup sehingga melupakan Allah, akhirat, dan tanggung jawab sebagai hamba-Nya.

Hedonisme adalah penyakit hati yang dapat mengikis ketakwaan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, orang bertakwa memanfaatkan dunia sebagai amanah untuk beribadah, beramal saleh, dan mencari rida Allah. Dengan demikian, ia memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus keberuntungan yang hakiki di akhirat.

Sebagaimana firman Allah:

«"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia...."»

«(QS. Al-Qashash: 77)»

Ayat ini menjadi prinsip keseimbangan dalam Islam: menikmati dunia yang halal tanpa diperbudak olehnya, serta menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan.


SELAMAT MEMBACA BAB BERIKUTNYA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang sehari hari

Dasar berzikir di masjid ,surau dan mushola

Belajar tanpa guru.