Syahwat

 Cara mengendalikan syahwat (nafsu seksual) agar tidak menguasai diri, maka Islam mengajarkan beberapa cara yang sejalan dengan upaya menjaga kesehatan jiwa dan raga:


1. Perbanyak mendekat kepada Allah dengan menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa agar diberi penjagaan hati.

2. Berpuasa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa puasa menjadi perisai bagi orang yang belum mampu menikah.

3. Menundukkan pandangan dari hal-hal yang membangkitkan syahwat, baik di dunia nyata maupun di media sosial dan internet.

4. Menghindari khalwat (berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram) dan lingkungan yang memancing maksiat.

5. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti bekerja, belajar, berolahraga, atau kegiatan sosial.

6. Memilih pergaulan yang baik, karena teman yang saleh dapat saling mengingatkan.

7. Menikah jika sudah mampu secara agama, mental, dan finansial, sebagai jalan yang dianjurkan untuk menjaga kehormatan.

Doa yang dapat dibaca antara lain:

> اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Allahumma inni as'alukal huda wat-tuqa wal-'afafa wal-ghina.

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (kesucian), dan kecukupan."

Apabila dorongan syahwat terasa sangat kuat hingga mengganggu ibadah, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ustaz yang terpercaya atau tenaga kesehatan profesional, karena terkadang ada faktor psikologis atau kebiasaan yang perlu ditangani secara khusus.


Ada beberapa masalah psikologis yang dapat berkontribusi sehingga seseorang lebih sulit mengendalikan syahwat. Ini tidak berarti semua orang yang mengalaminya pasti akan mengalami kesulitan tersebut, tetapi faktor-faktor ini memang dapat meningkatkan risikonya:

1. Stres berkepanjangan – sebagian orang melampiaskan stres melalui perilaku seksual atau pornografi sebagai pelarian.

2. Kecemasan – dorongan seksual kadang digunakan sebagai cara sementara untuk meredakan rasa cemas.

3. Depresi – sebagian orang kehilangan minat seksual, tetapi sebagian lainnya justru mencari pelampiasan melalui perilaku seksual.

4. Kesepian dan kekosongan emosional – mencari kedekatan atau kenyamanan melalui fantasi atau aktivitas seksual.

5. Kecanduan pornografi atau masturbasi – paparan berulang dapat memperkuat kebiasaan sehingga dorongan terasa semakin sulit dikendalikan.

6. Kesulitan mengendalikan impuls – sebagian orang memang lebih sulit menahan dorongan sesaat, termasuk dorongan seksual.

7. Trauma atau pengalaman masa lalu – pada sebagian orang, trauma dapat memengaruhi perilaku seksual, meskipun dampaknya berbeda-beda pada setiap individu.

8. Gangguan tertentu, misalnya episode mania pada gangguan bipolar, dapat menyebabkan peningkatan dorongan seksual yang jauh di atas biasanya dan memerlukan penanganan medis.

Dalam pandangan Islam, pengendalian syahwat dilakukan dengan menjaga pandangan, berpuasa bila belum mampu menikah, memperbanyak ibadah, menghindari hal-hal yang membangkitkan syahwat, dan memilih lingkungan yang baik. Ikhtiar spiritual dan ikhtiar medis atau psikologis tidak bertentangan; keduanya dapat saling melengkapi.

Jika dorongan syahwat terasa sangat kuat, sulit dikendalikan, berulang kali menyebabkan jatuh ke dalam maksiat, atau mengganggu pekerjaan, keluarga, maupun ibadah, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu mengidentifikasi apakah ada faktor psikologis atau kondisi kesehatan yang mendasarinya serta menentukan penanganan yang sesuai.


Wassalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang sehari hari

Dasar berzikir di masjid ,surau dan mushola

Belajar tanpa guru.